Bagaimana perasaan kamu jika mendapatkan bangku paling buncit di dalam pesawat terbang? Tergantung bersebelahan dengan siapa kamu duduk. Jika bersebelahan dengan artis yang kebetulan satu tujuan maka mungkin kamu akan mendapatkan keberuntungan, yaitu bisa beken nama kamu. Weleh .. apa hubungannya ya ..?
. Atau biasa-biasa saja sebagaimana kamu duduk bersebelahan dengan non artis? Atau yang paling heboh mungkin jika kamu tetanggaan dengan Maria Ozawa ..
Saat kembali ke Jakarta kemarin, saya kebetulan dapat bangku hampir paling buncit di pesawat, baik yang dari Sydney-Singapore maupun Singapore-Jakarta. Kalau dari Sydney ke Singapore bolehlah saya terima dapat bangku di belakang karena memang saat check-in saya berada nomor tiga dari belakang. Akan tetapi dari Singapore ke Jakarta ini, kok saya ditempatkan di urutan akhir juga? Sentimen kali tuh petugas check-in-nya. :) Pada hal kan beda waktu Sydney-Singapore adalah tiga jam (saat ini). Dan waktu itu saya check-in jam tujuh pagi artinya jam empat pagi waktu Singapore. Dan lagi pesawat Singapore-Jakarta yang akan saya tumpangi itu berjadwal 15.30 wts (waktu setempat ..
) jadi saya check-in 11 jam 30 menit sebelum keberangkatan pesawat tsb. Tapi kok tetap saja saya terpaku di bangku buntut? (complain mode On) ..
Ok, kita lupakan “nasib sial” itu. Kita beranjak ke topik utama kita yang tidak kalah sialnya dengan pengalaman tadi. Saat penerbangan Singapore-Jakarta, teman duduk seperjalanan (Ibnu sabil) di sebelah kanan saya memulai perbincangan dengan bertanya,”Dari Dubai Pak?”
Saya jawab,”Ngga, .. Sydney.”
Ibnu sabil,”Abudabi?”
Saya,”Bukan, .. Australi.”
Ibnu sabil,”Ooo …” “Di Indonesia di mana Pak?”
Saya,”Di Tangerang. .. Kalau Ibu di mana?”
Ibnu sabil,”Di Tasik. Ini saya mau pulang ke Tasik (maksudnya Tasikmalaya).” Ia diam dan saya pun diam beberapa saat.
Kali ini saya yang memulai bertanya,”Ibu dari Abudabi?”
Ibnu sabil,”Iya.”
Saya,”Kerja Bu?”
Ibnu sabil,”Iya, ..”
Saya,”Lalu sekarang ini pulang liburan atau .. ?”
Ibnu sabil,”Iya, saya pulang kali ini karena musibah.”
Saya,”Musibah? .. Maksudnya?”
Ibnu sabil,”Saya berkelahi dengan teman yang dari Ethiopia. Jadi kali ini saya pulang mendadak dan keluarga di rumah juga belum ada yang tahu.””Lagi pula sekarang TKI ga boleh dijemput di Bandara Soekarno-Hatta.”
Kalimat terakhir itu sangat menarik perhatian saya. “Dari bandara, kami diantar sampai ke tujuan. Di bandara kami harus bayar Rp 350.000,- per orang. Tiba di daerah lokasi kami tinggal, harus bayar lagi ke ‘petugas’ sebesar Rp 350.000,- per orang.”
Lalu ia bertanya,”Bapak kerja di Sydney?”
Saya,”Ngga, .. studi…” “Tapi ya .. nyambi kerja juga. Sebab biaya studinya mahal.”
Ibnu sabil,”Anak saya juga kuliah.”
Saya,”Kuliah di mana?”
Ibnu sabil,”Di Perhotelan.” “Cuma ia harus D.O. di tengah jalan. Tidak ada lagi dana untuk membiayainya.”
Saya,”Sayang sekali ya Bu ..” “Sejak kapan larangan dijemput di bandara ada?”
Ibnu sabil,”Kalau ga salah sih sejak tahun lalu.”
Saya,”Sekarang saya ngerti Bu, kenapa TKI ga boleh dijemput. Agar dana tranportasi ke lokasi rumah dapat ‘mereka’ ambil alih. Tapi ongkos sebesar Rp 350.000,- untuk sampai di Tasik itu berlebihan. Ditambah lagi dengan uang palak Rp 350.000,- , ini sungguh keterlaluan.”
Ibnu sabil,”Habis mau gimana lagi Pak?”
Saya,”Berapa gaji yang Ibu terima di Abudhabi per bulan?”
Ibnu sabil,”800 dirham. Dikurs ke rupiah dapat sekitar 1,5 juta rupiah”
Saya,”Itu gaji yang Ibu terima, langsung di tangan Ibu sendiri?”
Ibnu sabil,”Iya Pak.”
Saya,”Ibu berangkat ke Dubai melalui jasa PJTKI ya ?”
Ibnu sabil,”Iya Pak.”
Saya,”Bayar berapa untuk pertama kali berangkat?”
Ibnu sabil,”Gratis. Tinggal berangkat saja.”
Saya,”Masa sih Bu?”
Ibnu sabil,”Iya, semua sudah diurus dan tinggal berangkat.”
Dari percakapan di atas, walaupun mereka calon TKI terkesan mendapatkan kemudahan saat berangkat, akan tetapi gaji yang sebesar 1,5 juta rupiah yang mereka terima itu adalah tak sebanding dengan pengorbanan mereka yang harus terpisah jauh dari sanak keluarga. Gaji mereka yang sesungguhnya adalah jauh lebih besar dari itu. Yang sebagian besar sudah ‘diperas’ di depan saat sang majikan memesan mereka dari PJTKI dengan bayaran yang sangat tinggi. Jadi secara tidak sadar sesunggunya mereka telah menjadi ’sapi perahan’. Harap maklum, mereka rata-rata memang lugu dan sangat mudah menjadi ’santapan empuk’ orang-orang licik yang menyalahgunakan pengetahuan mereka. Ditambah lagi saat mereka kembali ke tanah air yang menjadi bulan-bulanan ‘mafia TKI’. Ruang khusus untuk mereka di Bandara SH yang menempatkan mereka pada posisi ‘makhluk khusus’ yang semua orang langsung mengenali mereka seakan mereka memiliki ‘privilege tersendiri’ dalam artian melecehkan mereka. Dan saya pun mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang memandang rendah mereka (Semoga Allah mengampuni saya atas sikap takabur saya ini.). Dan lagi yang lebih tragis adalah jika mereka mendapatkan perlakuan menyakitkan dari majikan mereka, misalnya penganiayaan hingga menimbulkan kematian.
Walaupun cerita pilu para ‘Pahlawan Devisa’ ini bukanlah baru hari ini terdengar, namun membiarkn situasi seperti ini terus berlanjut adalah bentuk ketidak pedulian kita terhadap kejahatan kemanusiaan terselubung yang berlindung di balik jasa tenaga kerja.
Kalau bukan kita, siapa lagikah yang peduli terhadap ketidakadilan yang mereka terima?
Ket. Gbr diambil dari : 3.bp.blogspot.com
Tags: Abudhabi, Dubai, ibnu sabil, kejahatan kemanusiaan, Pahlawan devisa, palak, sapi perahan, TKI