Jan 17 2010

lamunadi

Komputer: Feminin atau Maskulin?

Filed under Behaviour, Komputer

Sebelum Buku Senandung Cinta dari Rumah Kayu terbit, sesungguhnya saya sudah punya jawaban untuk pertanyaan itu. Jadi di sini saya sekedar sumbang jawab untuk penulis. Bukan mengomentari atau meresensi. Dan juga sebagai bentuk partisipasi saya ikut merusuhkan meramaikan kontes ini ..  :) .

Jawaban ringkas saya adalah, komputer itu feminin. Kenapa? Karena jika saya sudah duduk di depan si Kotak Ajaib itu, maka akan ada orang lain yang cemburu, yaitu istri saya. Suatu ketika, saat saya sedang asyik menatap layar monitor, tanpa diduga, istri saya nyeletuk,”Tuh, istri kedua kamu.” Saya heran,”Lho, yang mana, siapa?” Istri saya menjawab,”Itu .. komputer itu, istri kedua mu.” Saya,”Ooooh .. itu toh ..”

Jadi berangkat dari peristiwa itu, maka saya berkesimpulan bahwa komputer itu dari jenis feminin. Sebab saya ga mungkin dong beristri lagi dengan maskulin apalagi setengah maskulin atau setengah feminin atau bahkan hermaprodit .. :) .

Ada yang keberatan? Silakan tinggalkan komen .. :)

31 responses so far

Jan 07 2010

lamunadi

Lama Ga Posting

Filed under Tak Berkategori

Sudah lama nih, satu bulan lebih sekian hari saya ngga posting tulisan baru. Harap maklum sedang menyibukkan diri, atau lebih tepatnya tidak meluangkan waktu tuk nge-tik di depan kompi .. :)

sebenarnya ada beberapa catatan tentang hal-hal keseharian yang saya saksikan dan sudah saya coret-coretkan di atas kertas. Tapi setelah lewat beberapa hari maka catan itu terasa menggantung karena memang belum finish tulisannya. :)

Moga-moga dalam waktu dekat ini saya akan mulai posting lagi. Amiiiiiiin .. :)

15 responses so far

Dec 02 2009

lamunadi

Rindu Sahabat

Filed under Tak Berkategori

Pagi ini ba’da sholat shubuh perasaan itu datang lagi. Rasa rindu. Rasa ingin bertemu seorang sahabat yang sudah sekian lama tak bersua. Bebarapa hari yang lalu juga timbul rasa itu. Dalam hati saya bertanya-tanya, ada apa gerangan? Saya berharap semoga kamu dan keluargamu baik-baik saja serta selalu dalam naungan kasih sayang Sang Khaliq.

Sahabat yang satu ini sungguh memiliki arti tersendiri bagi saya. Ia datang menolong di saat saya sangat membutuhkannya tanpa saya minta terlebih dahulu. Bahkan ia mencari tahu di mana keberadaan saya setelah saya dengan sengaja menghilangkan jejak dari semua teman-teman. Sungguh besar jasanya terhadap saya dan saya kira takan terimpaskan jika suatu saat saya melakukan hal yang sama terhadapnya. Saya yakin, Allah telah mengganjarnya dengan kesuksesan yang kini ia alami dan jalani.

Semoga saya cepat bertemu dengannya.

26 responses so far

Nov 21 2009

lamunadi

Korban “Tabrak Lari”

Filed under Behaviour, Pengalamanku

keong_emas1Pagi ini ketika saya sedang memulai jogging di lingkungan komplek perumahan, saat belok kiri di persimpangan, saya dapati seekor keong sedang merayap menyeberangi jalan. Keong itu sudah hampir mencapai sisi kiri jalan, namun masih pada posisi yang belum cukup aman, karena jika ada kendaraan yang melintas entah itu sepeda motor atau mobil maka masih ada kemungkinan ia akan terlindas.

Dengan pertimbangan ingin menyelamatkan “nyawa” seekor makhluk, maka dengan cara yang tidak sopan menurut ukuran manusia beradab (Untuk ukuran adab keong, etika bisa kita abaikan ..  :) ), saya pinggirkan keong itu dengan cara menendangnya perlahan pada punggung batoknya. Ia pun menggelinding ke pinggir jalan dan berhenti di atas rumput. Kebetulan semen trotoar sudah lenyap sehingga ia bisa mendarat di atas trotoar yang berumput tadi.

Usaha saya “menyelamatkan hidup” sang keong ternyata cukup beralasan. Beberapa meter melangkah, saya dapati seekor katak tergeletak tak begerak alias mokat (mati, bahasa prokem) sebagai “korban tabrak lari”. Beberapa meter ke depan juga saya temukan katak yang lain sebagai korban berikutnya. Melangkah lagi beberapa meter, saya jumpai seekor curut yang juga sudah dalam keadaan sedikit gepeng akibat jejak roda bundar di atas tubunya. Dan masih ada lagi beberapa korban yang sudah nyaris kering akibat sudah berhari-hari diam di sana tanpa ada yang peduli terhadap bangkai-bangkai tsb. .. :)

Kedepan saya berharap saya bisa lebih cepat dari gerakan mobil atau motor sehingga tidak akan bertambah korban-korban lainnya. ..  :) Nyambung ga ya .. ? Kejadiannya kapan dan saya muncul kapan kan ga bersamaan … :)

Keterangan: gbr keong di ambil dari,  http://4.bp.blogspot.com/

11 responses so far

Nov 15 2009

lamunadi

Senandung Cinta dari Rumah Kayu, Bukan Resensi

Filed under Blogging

coverrumahkayu1

Sudah cukup banyak blogger yang posting resensi untuk Buku ‘Senandung Cinta Dari Rumah Kayu’. Kali ini saya tidak akan latah memposting hal yang sama, dengan dua alasan. Pertama dan yang paling mendasar adalah saya tak pandai ‘tuk meresensi sesuatu, entah itu buku, film, dsb. Maklum, wawasan saya masih terbatas, walau belum menyamai ‘katak dalam tempurung’ .. :) . Kedua, dengan keberadaan beberapa resensi tadi yang sudah online, maka saya kira itu sudah lebih dari cukup. Sebab kalau terlalu banyak ulasan, saya khawatir ga ada blogger yang akan membeli buku tsb. .. :) (just kidding).

Seperti janji saya pada komen yang saya tinggalkan di blog RumahKayu saat promosi  :)  menjelang terbitnya Buku tsb. Bahwa saya akan membelinya saat saya tiba di Jakarta. Dan Keesokan hari dari waktu kedatangan saya, saat sore pulang ngantor, saya sempatkan diri tuk singgah di TB Gramed. Pertama saya cari-cari di kumpulan ‘Buku Baru’, namun nihil. Lalu saya pindah ke tumpukan ‘Buku Laris’ (Dapet ide dari mana ya .. kalau buku yang baru 2 hari terbit itu langsung jadi ‘Buku Laris’ .. :) ), di sini juga sama hasilnya, nihil. Karena penasaran, lalu saya balik lagi ke ‘blok’ Buku Baru tadi. Angkat ini-itu, longok sana-sini, keliling mengitari tumpukan buku tsb beberapa kali, tetap tidak ketemu :( . Akhirnya saya menyerah :( , langsung tanya ke petugas jaga (bukan satpamnya .. :) ), “Pak, ada buku ‘Rumah Kayu’ ?” Itulah kalimat yang saya tanyakan kepada salah dua penjaganya. Lalu ia menghampiri monitor komputer yang sedang nangkring di situ dan mulai ngetik di keyboardnya, “Rumah kayu”, dan search …..,  Ooops….., keluar dua judul. Yang pertama adalah “… Rumah Kayu” (Sorry lupa .. :) ) dan yang Kedua adalah,”Senandung Cinta Dari Rumah Kayu”. Saya langsung tunjuk judul yang kedua, dan ternyata benar, itu buku yang saya maksud dengan penulisnya Dee dan Kuti. Mo tau, dimana letak buku tsb? Masih tersimpan rapi di dalam laci. Jadi belum dipajang di salah tiga rak buku mereka.

Esok harinya, sambil duduk dalam angkot dan bis menuju office, saya baca buku tsb. Pulang ngantor juga saya lakukan hal yang sama, cuma kebalikannya. Maksudnya begini, kalau di waktu pagi, bacaan saya berarah rumah-kantor, maka di sore hari arahnya adalah kantor-rumah .. :) (ga penting.com :) ). Dan hasil jelajah mata, hati dan logik saya di atas lembaran-lembaran bertinta coklat tsb adalah bertambahnya ilmu saya akan dunia cinta dan betina wanita. Ternyata masih banyak yang belum saya ketahui tentang dunia perempuan. Juga dari awal hingga akhir isinya mampu ‘mengaduk-aduk’ perasaan saya. :) .

Selamat yaa .. untuk terbitnya buku Rumah Kayu.

13 responses so far

Nov 05 2009

lamunadi

Perbincangan Dengan Pahlawan Devisa In The Air

pahlawandevisa1Bagaimana perasaan kamu jika mendapatkan bangku paling buncit di dalam pesawat terbang? Tergantung bersebelahan dengan siapa kamu duduk. Jika bersebelahan dengan artis yang kebetulan satu tujuan maka mungkin kamu akan mendapatkan keberuntungan, yaitu bisa beken nama kamu. Weleh .. apa hubungannya ya ..? :) . Atau biasa-biasa saja sebagaimana kamu duduk bersebelahan dengan non artis? Atau yang paling heboh mungkin jika kamu tetanggaan dengan Maria Ozawa .. :)

Saat kembali ke Jakarta kemarin, saya kebetulan dapat bangku hampir paling buncit di pesawat, baik yang dari Sydney-Singapore maupun Singapore-Jakarta. Kalau dari Sydney ke Singapore bolehlah saya terima dapat bangku di belakang karena memang saat check-in saya berada nomor tiga dari belakang. Akan tetapi dari Singapore ke Jakarta ini, kok saya ditempatkan di urutan akhir juga? Sentimen kali tuh petugas check-in-nya. :)  Pada hal kan beda waktu Sydney-Singapore adalah tiga jam (saat ini). Dan waktu itu saya check-in jam tujuh pagi artinya jam empat pagi waktu Singapore. Dan lagi pesawat Singapore-Jakarta yang akan saya tumpangi itu berjadwal 15.30 wts (waktu setempat .. :) ) jadi saya check-in 11 jam 30 menit sebelum keberangkatan pesawat tsb. Tapi kok tetap saja saya terpaku di bangku buntut? (complain mode On) ..

Ok, kita lupakan “nasib sial” itu. Kita beranjak ke topik utama kita yang tidak kalah sialnya dengan pengalaman tadi. Saat penerbangan Singapore-Jakarta, teman duduk seperjalanan (Ibnu sabil) di sebelah kanan saya memulai perbincangan dengan bertanya,”Dari Dubai Pak?”

Saya jawab,”Ngga, .. Sydney.”

Ibnu sabil,”Abudabi?”

Saya,”Bukan, .. Australi.”

Ibnu sabil,”Ooo …” “Di Indonesia di mana Pak?”

Saya,”Di Tangerang. .. Kalau Ibu di mana?”

Ibnu sabil,”Di Tasik. Ini saya mau pulang ke Tasik (maksudnya Tasikmalaya).” Ia diam dan saya pun diam beberapa saat.

Kali ini saya yang memulai bertanya,”Ibu dari Abudabi?”

Ibnu sabil,”Iya.”

Saya,”Kerja Bu?”

Ibnu sabil,”Iya, ..”

Saya,”Lalu sekarang ini pulang liburan atau .. ?”

Ibnu sabil,”Iya, saya pulang kali ini karena musibah.”

Saya,”Musibah? .. Maksudnya?”

Ibnu sabil,”Saya berkelahi dengan teman yang dari Ethiopia. Jadi kali ini saya pulang mendadak dan keluarga di rumah juga belum ada yang tahu.””Lagi pula sekarang TKI ga boleh dijemput di Bandara Soekarno-Hatta.”

Kalimat terakhir itu sangat menarik perhatian saya. “Dari bandara, kami diantar sampai ke tujuan. Di bandara kami harus bayar Rp 350.000,- per orang. Tiba di daerah lokasi kami tinggal, harus bayar lagi ke ‘petugas’ sebesar Rp 350.000,- per orang.”

Lalu ia bertanya,”Bapak kerja di Sydney?”

Saya,”Ngga, .. studi…” “Tapi ya .. nyambi kerja juga. Sebab biaya studinya mahal.”

Ibnu sabil,”Anak saya juga kuliah.”

Saya,”Kuliah di mana?”

Ibnu sabil,”Di Perhotelan.” “Cuma ia harus D.O. di tengah jalan. Tidak ada lagi dana untuk membiayainya.”

Saya,”Sayang sekali ya Bu ..” “Sejak kapan larangan dijemput di bandara ada?”

Ibnu sabil,”Kalau ga salah sih sejak tahun lalu.”

Saya,”Sekarang saya ngerti Bu, kenapa TKI ga boleh dijemput. Agar dana tranportasi ke lokasi rumah dapat ‘mereka’ ambil alih. Tapi ongkos sebesar Rp 350.000,- untuk sampai di Tasik itu berlebihan. Ditambah lagi dengan uang palak Rp 350.000,- , ini sungguh keterlaluan.”

Ibnu sabil,”Habis mau gimana lagi Pak?”

Saya,”Berapa gaji yang Ibu terima di Abudhabi per bulan?”

Ibnu sabil,”800 dirham. Dikurs ke rupiah dapat sekitar 1,5 juta rupiah”

Saya,”Itu gaji yang Ibu terima, langsung di tangan Ibu sendiri?”

Ibnu sabil,”Iya Pak.”

Saya,”Ibu berangkat ke Dubai melalui jasa PJTKI ya ?”

Ibnu sabil,”Iya Pak.”

Saya,”Bayar berapa untuk pertama kali berangkat?”

Ibnu sabil,”Gratis. Tinggal berangkat saja.”

Saya,”Masa sih Bu?”

Ibnu sabil,”Iya, semua sudah diurus dan tinggal berangkat.”

Dari percakapan di atas, walaupun mereka calon TKI terkesan mendapatkan kemudahan saat berangkat, akan tetapi gaji yang sebesar 1,5 juta rupiah yang mereka terima itu adalah tak sebanding dengan pengorbanan mereka yang harus terpisah jauh dari sanak keluarga. Gaji mereka yang sesungguhnya adalah jauh lebih besar dari itu. Yang sebagian besar sudah ‘diperas’ di depan saat sang majikan memesan mereka dari PJTKI dengan bayaran yang sangat tinggi. Jadi secara tidak sadar sesunggunya mereka telah menjadi ’sapi perahan’. Harap maklum, mereka rata-rata memang lugu dan sangat mudah menjadi ’santapan empuk’ orang-orang licik yang menyalahgunakan pengetahuan mereka. Ditambah lagi saat mereka kembali ke tanah air yang menjadi bulan-bulanan ‘mafia TKI’. Ruang khusus untuk mereka di Bandara SH yang menempatkan mereka pada posisi ‘makhluk khusus’ yang semua orang langsung mengenali mereka seakan mereka memiliki ‘privilege tersendiri’ dalam artian melecehkan mereka. Dan saya pun mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang memandang rendah mereka (Semoga Allah mengampuni saya atas sikap takabur saya ini.). Dan lagi yang lebih tragis adalah jika mereka mendapatkan perlakuan menyakitkan dari majikan mereka, misalnya penganiayaan hingga menimbulkan kematian.

Walaupun cerita pilu para ‘Pahlawan Devisa’ ini bukanlah baru hari ini terdengar, namun membiarkn situasi seperti ini terus berlanjut adalah bentuk ketidak pedulian kita terhadap kejahatan kemanusiaan terselubung yang berlindung di balik jasa tenaga kerja.

Kalau bukan kita, siapa lagikah yang peduli terhadap ketidakadilan yang mereka terima?

Ket. Gbr diambil dari :  3.bp.blogspot.com

23 responses so far

Oct 28 2009

lamunadi

Sumpah Pemuda 2009, Berjanji Takan Berjanji

Filed under Behaviour, Sejarah, Spirit

sumpah_pemudaskets

Kita semua pasti tahu bahwa pada tahun 1928 para pemuda Indonesia telah mengadakan kongres dan hasilnya adalah sebuah tekad dalam bentuk sumpah yang teksnya adalah sebagai berikut:

PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

KEDOEA
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

KETIGA
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.

Naskah aslinya adalah gambar berikut ini,

naskahsumpahpemuda1

Dan pada hari ini, saya sebagai pemuda Indonesia berjanji akan TIDAK BERJANJI atau BERSUMPAH karena saya tahu saya tidak akan sanggup memenuhi janji atau sumpah itu sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Bapak-Bapak saya, Ibu-Ibu saya dan Saudara-Saudara saya yang duduk di kursi empuk anggota DPR dan Jabatan Pemerintahan lainnya. Sebelum terpilih, mereka berjanji akan mensejahterakan rakyatnya. Sebelum menjabat, mereka diambil sumpah dan janjinya untuk tidak melakukan KKN. Akan tetapi, memang lidah tak bertulang. Tak terbatas kata-kata. Tinggi gunung seribu janji. Lain dibibir lain di tangan dan kaki. Tuhan pun mungkin malu melihat tingkah laku sebagian dari mereka.

Oleh karena itu sungguh saya tak sanggup menanggung beban berat janji dan sumpah itu. Janji adalah hutang. Orang yang berhutang, sebagaimana yang sudah diingatkan oleh Nabi yang mulia, bahwa mereka akan tertahan di pintu surga kelak di Hari Pengadilan Tertinggi. Apa lagi jika saya sampai menjarah harta negara yang nota bene adalah harta rakyat juga, maka harta itu kelak akan menyeret saya ke dalam api neraka yang bergejolak.

Biarlah mereka yang berjanji mencederai janjinya. Namun saya tetap akan bekerja dan berbuat sesuai dengan bidang keahlian saya yang mungkin jika dibandingkan dengan para petinggi negara maka saya tak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapanya siapa. Amal kecil dan sepele saya semoga bermanfaat bagi mereka yang langsung merasakannya.

Tetap berjuang Pemuda Indonesia! Apapun halangan dan rintangan, janganlah patah arang. Halangan dan rintangan adalah bagian manis dari perjuangan kalian.

Keterangan: Sketsa gambar Sumpah Pemuda diambil dari sini.

21 responses so far

Oct 24 2009

lamunadi

Award Persahabatan

Filed under Tak Berkategori

awardsahabat1Dapat award lagi nih..  :) .. berarti eksistensi gue di dunia blogging makin diakui (apa hubugannya ya .. :) ). Yaa .. paling ga, dengan adanya award makin memacu semangat untuk go blog bukan goblok .. :) .  Kali ini award yang saya dapat adalah ‘Award Persahabatan’ ditambah lagi dengan award ‘Top Blogger Komentator’.  Perasaan sih saya belum bisa nyama-in blogger ini, Kang Boed, Supriatno, dan lainnya dalam hal ninggalin jejak komen di berbagai blogs yang ada di seantero jagad maya ini, dalam rangka promosi blog-nya :) . Bahkan saya komen pun kadang-kadang error, OOT, ga nyambung, dsb, dst, dll, :) .

awardtopkomentatorKarena tidak ada perintah lanjutan dari sang pemberi award, maka bagi blogger yang berminat dengan award-award ini, silakan diambil dan pasang di blog masing-masing. It’s free. :) . Juga terimakasih tuk Yangputri yang sudah berbaik hati berbagi dengan keceriahan awardnya.

OK deh .. salam persahabatan untuk semua bloggers.

8-)

14 responses so far

Oct 16 2009

lamunadi

Potret Buram Teroris Indonesia

Filed under Behaviour, Opiniku, Politik

gay-terrorist2Sudah baca berita pengerebekan para teroris di negeri ini? Misalnya di daerah Bekasi dan yang terakhir di Ciputat. Jika belum maka anda mungkin termasuk yang tertinggal berita “panas”. Atau mungkin anda bagian dari orang-orang yang tidak tertarik dengan cerita para pembantai tak berhati tsb? Apa pun alasannya, anda memang berhak untuk menentukan pilihan untuk tahu atau tidak berita-berita tentang dunia mereka.

Teroris, seperti halnya “profesi-profesi dunia hitam” lainnya misalnya drug trader, prostitute, tentu ada kelas-kelas dan levelnya. Pendapat saya pribadi, teroris ini termasuk golongan elit. Bayangkan, untuk melaksanakan tugasnya, mereka harus memiliki skills yang tinggi. Sebagai rujukan anda bisa tanyakan kepada Bapak-Bapak Polisi kita atau para Tentara, apa saja yang dibutuhkan pada saat seorang atau kelompok teroris akan melaksanakan aksinya. Sehingga menjadi teroris itu termasuk “ekonomi biaya tinggi”. Dan efek lainya lagi tidak sembarang orang, kelompok atau negara yang sanggup mendanai para eksekutor di lapangan. Para gembong harus punya dana yang besar dan sumber dana yang besar pula. Baik untuk biaya operasi maupun maintenance jaringannya.

Sekarang kita amati para peneror yang beraksi di Bumi Pertiwi ini. Dr. Azhari yang sudah ko-it beberapa tahun lalu, yang diserbu oleh aparat keamanan di rumah kontrakannya. Peneror lainnya yang di gerebek di daerah Bekasi, barat Jakarta, mereka juga tinggal di rumah kontrakan. Dan yang masih fresh beberapa hari kemarin, mereka ditaklukkan di tempat kost mereka di daerah Ciputat, selatan Jakarta.

Paling tidak, dari tiga contoh yang saya sebutkan itu, ada dua kesamaan. Pertama mereka tinggal di rumah kontrakan atau sewa kawar. Yang kedua mereka sedemikian mudahnya dibabat dan berujung pada kematian mereka. Yang kedua ini berlawanan dengan keahlian mereka saat mereka meledakkan suatu target. Karena merujuk pada satu sumber, mantan petinggi TNI yang dimuat dalam salah satu edisi majalah INTELEJEN, contoh kasus ledakan bom Mariot jilid II, diperlukan skills yang tinggi untuk dapat menyusup dan memasang bom di sana. Sehingga mereka mampu menembus security hotel, bahkan Intelejen Indonesia sendiri. Hal yang sangat menampar muka mereka (jika mereka masih punya harga diri sebagai orang Indonesia). OK, saya serahkan analisa lanjutan untuk point yang kedua ini kepada anda.

Saya akan mengomentari poin kesatu. Kehidupan para peneror Indonesia sungguh tidak sebanding dengan tingginya resiko yang mereka hadapi dan akan mereka terima. Jika hanya tinggal di rumah kontrakan atau sepetak kamar kost, berapa sebenarnya bayaran yang mereka terima dari Bos Besar mereka tiap kali melakukan aksi atau menjadi anggota kelompok. Sangat kontras jika kita bandingan dengan cerita-cerita di film (kenyataannya cerita film barat tak beda jauh dengan kehidupan real mereka) mereka tinggal di hotel-hotel atau apartemen mewah. Dan ketika diserbu oleh pihak keamanan pun, apartemen ataupun hotel di mana mereka tinggal akan menjadi sasaran tembak pihak aparat. Sehingga kerusakan yang terjadi pasti juga besar dan berbiaya mahal. Nah teroris di sini, karena tinggal di rumah kontrakan atau bahkan ruang kost, maka kerusakan yang ditimbulkan pun relatif kecil ketika terjadi aksi baku tembak dan baku lembar granat. Sehingga lagi, saya lebih suka mengelompokkan peneror di Indonesia sebagai teroris kelas teri. Bandingkan misalnya dengan drug dealer yang pasti mereka kaya raya. Atau prostitute kelas hotel yang juga kaya raya, hidup bergelimang harta. Kontras dengan wts kelas Bongkaran Tanah Abang, yang untuk harga sekali kencan pun  masih bisa dinego, apakah pakai kasur atau hanya selembar tikar …  :D    :D     :D    . Sebagai akibatnya para peneror kita tsb jika disejajarkan maka mereka mungkin hanya sekelas wts Bongkaran, meskipun label yang disematkan oleh AS sendiri sebagai the great terrorist chaser in the world adalah teroris.

22 responses so far

Oct 16 2009

lamunadi

Rahim Yang Sama (sambungan ..)

Filed under Behaviour

Rahim Yang Sama

Kita adalah kumpulan orang
Yang pernah singgah
di rahim yang sama

Kebersamaan kita
berpuluh tahun masa
Pupus sudah dalam sekejap

Perempuanku kalian anggap
Orang luar yang bisa dibuang
Kapanpun kalian suka

Sadarkah kita
Dia bunda dari belahan jiwa dan ragaku
Mereka ku genggam sebagai amanah

Biarlah ku pilih yang sukar
Dari hal tersukar
Tanggungjawab terhadap-Nya

Kita adalah kumpulan orang
Yang pernah singgah
di rahim yang sama

Aku masih punya asa
Di waktu mendatang
Aku, kamu, dia, mereka, sadar

Apa keliru yang sudah kita cipta
Apa manfaat yang kita dapat
Selain dari abu dan arang

Sydney, 16 Oktober 2009

4 responses so far

Older Posts »